
HUJAN BULAN JUNI
Tak ada yang lebih tabah
Dari hujan bulan juni
Dirahasiakannya rintik rindunya
Kepada pohon berbunga itu
Tak ada yang lebih bijak
Dari hujan bulan juni
Dihapusnya jejak-jejak kakinya
Yang ragu-ragu di jalan itu
Tak ada yang lebih arif
Dari hujan bulan juni
Dibiarkannya yang tak terucapkan
Diserap akar pohon bunga itu
AKU INGIN
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan kata yang tak sempat diucapkan
Kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana
Dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
Awan kepada hujan yang menjadikannya tiada
HATIKU SELEMBAR DAUN
Hatiku selembar daun
Melayang jatuh di rumput;
Nanti dulu,
Biarkan aku sejenak terbaring di sini;
Ada yang masih ingin kupandang,
Yang selama ini senantiasa luput;
Sesaat adalah abadi
Sebelum kausapu tamanmu setiap pagi.
YANG FANA ADALAH WAKTU
Yang fana adalah waktu.
Kita abadi memungut detik demi detik, merangkainya seperti bunga
Sampai pada suatu hari
Kita lupa untuk apa
“tapi, yang fana adalah waktu, bukan?” tanyamu.
Kita abadi.
PADA SUATU HARI NANTI
Pada suatu hari nanti,
Jasadku tak akan ada lagi,
Tapi dalam bait-bait sajak ini,
Kau tak akan kurelakan sendiri.
Pada suatu hari nanti,
Suaraku tak terdengar lagi,
Tapi di antara larik-larik sajak ini.
Kau akan tetap kusiasati,
Pada suatu hari nanti,
Impianku pun tak dikenal lagi,
Namun di sela-sela huruf sajak ini,
Kau tak akan letih-letihnya kucari.
HANYA
Hanya suara burung yang kau dengar
Dan tak pernah kaulihat burung itu
Tapi tahu burung itu ada di sana
Hanya desir angin yang kaurasa
Dan tak pernah kaulihat angin itu
Tapi percaya angin itu di sekitarmu
Hanya doaku yang bergetar malam ini
Dan tak pernah kaulihat siapa aku
Tapi yakin aku ada dalam dirimu
SAJAK KECIL TENTANG CINTA
Mencintai angin harus menjadi siut
Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal
Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala harus menebas jarak
Mencintaimu harus menjelma aku
MENJENGUK WAJAH DI KOLAM
Jangan kau ulang lagi
Menjenguk
Wajah yang merasa
Sia-sia, yang putih
Yang pasi itu.
Jangan sekali-kali membayangkan
Wajahmu sebagai rembulan.
Ingat,
Jangan sekali-kali. Jangan.
Baik, tuan.
AKULAH SI TELAGA
Akulah si telaga:
Berlayarlah di atasnya;
Berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil
Yang menggerakkan bunga-bunga padma;
Berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya;
Sesampai di seberang sana, tinggalkan begitu saja
— perahumu biar aku yang menjaganya.
DALAM DIRIKU
Dalam diriku mengalir sungai panjang
Darah namanya;
Dalam diriku menggenang telaga darah
Sukma namanya;
Dalam diriku meriak gelombang sukma
Hidup namanya!
Dan karena hidup itu indah
Aku menangis sepuas-puasnya.
KUHENTIKAN HUJAN
Kuhentikan hujan
Kini matahari merindukanku, mengangkat kabut pagi perlahan.
Ada yang berdenyut dalam diriku
Menembus tanah basah;
Dendam yang dihamilkan hujan dan cahaya matahari.
Tak bisa kuhentikan matahari memaksaku menciptakan bunga-bunga.
SAJAK TAFSIR
Kau bilang aku burung?
Jangan sekali-kali berkhianat
Kepada sungai, ladang, dan batu
Aku selembar daun terakhir
yang mencoba bertahan di ranting
yang membenci angin
Aku tidak suka membayangkan
keindahan kelebat diriku
yang memimpikan tanah
Tak mempercayai janji api yang akan menerjemahkanku
ke dalam bahasa abu
Laman: sman12berau.sch.id
Instagram: instagram.com/sman12berau_id
Facebook: facebook.com/sman12berauID
Youtube: SMA NEGERI 12 BERAU
